Voice In The Wilderness

Blog Entrybelajar dari Venezuela...Apr 15, '08 3:58 AM
for everyone

Kesadaran Sejarah

Coen Husain Pontoh - Januari 4, 2006

Beberapa tahun lalu, ketika suhu gerakan sosial masih panas mendidih, timbul pertanyaan: bagaimana membangun gerakan yang kuat dan besar? Ada kesadaran bahwa gerakan saat itu, besar karena faktor momentum dan itu tidak akan berlangsung lama. Setelah periode gelombang pasang akan datang masa surut. Orang-orang akan kembali pada pekerjaan semula. Yang mahasiswa akan kembali kuliah, yang bekerja akan kembali pada pekerjaannya. Yang tersisa adalah sebuah ingatan kolektif, pengalaman kolektif akan sebuah gerakan bersama. Yang tinggal adalah mereka yang menjadikan pembangunan gerakan sebagai pekerjaannya.

Dalam masa surut itu, terbukti masalah tidak turut usai. Bahkan masalah baru terus bermunculan, dengan kualitas-kualitas yang berbeda yang menuntut penyikapan berbeda pula. Jika di masa kejayaan Soeharto yang terpenting adalah berani bersuara keras dan berani tampil ke depan, kini harus ditambah dengan program yang konkret, organisasi yang berkualitas dan menjangkau lapisan yang lebih luas. Pada sisi ini, gerakan sosial kehilangan momentumnya. Masa surut ini rupanya diikuti dengan meredupnya peran gerakan sosial sebagai garda depan transformasi sosial. Masa surut ini justru dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan lama dan baru, yang mesti diakui lebih siap bertempur di lapangan.

Mengapa gerakan sosial seperti ketinggalan kereta pembaruan? Atau ide-ide pembaruannya dibajak dan dibelokkan misinya oleh oligarki. Ada banyak jawabannya. Boleh jadi akan ada sanggahan, "siapa bilang gerakan sosial ketinggalan kereta?" Berpijak pada temuan riset Demos, sebenarnya ada banyak sekali gerakan sosial di Indonesia, tersebar dalam beragam sektor, dengan aktivis-aktivis yang jujur dan teguh pada idealismenya. Tetapi, menurut temuan itu, sebagian besar dari para demokrat itu berada dalam posisi mengambang (baca demokrat mengambang), tak punya akar yang dalam di massa rakyat, sekaligus minim kaitannya pada pengambilan keputusan politik strategis. Ini artinya, secara organisasi gerakan sosial sangat lemah (banyak tapi kecil) dan tak punya pemimpin yang mampu mempengaruhi wacana publik. Padahal dua hal ini, organisasi yang besar dan menjangkau lapisan terluas serta adanya pemimpin yang mampu mempengaruhi wacana publik, merupakan syarat utama untuk bertarung dengan oligarki di ranah praktis.

Karena realitasnya demikian, salah satu jawaban untuk membesarkan gerakan adalah koalisi. Tetapi, belum terlihat adanya koalisi besar dan permanen yang dimaksudkan untuk melawan oligarki. Koalisinya lebih bersifat taktis atau lebih berdasarkan pada kasus-kasus tertentu. Kata teman saya, ini namanya koalisi setengah hati. Saya mungkin terlalu pesimis. Indonesia bukanlah Brazil, Argentina, Bolivia atau Korea Selatan, dimana koalisi besar dan permanen bisa terbentuk karena adanya gerakan sosial yang besar di sana. Di Brazil ada MST (Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra/Gerakan Kaum Tak Bertanah Pedesaan). Di Argentina ada Gerakan Buruh Pengangguran Perkotaan. Di Bolivia ada Cocaleros dan gerakan tani yang kuat. Di Korsel ada Konfederasi Serikat Buruh Korea (KCTU) yang besar dan sangat militan. Organisasi-organisasi ini, karena kualitas dan kuantitasnya, menjadi masinis gerbong koalisi yang kuat, yang tidak mudah goyah apalagi pecah oleh adanya friksi dalam soal taktik dan ideologi.

Indonesia saya kira mirip Venezuela. Di negeri kaya minyak itu, sebelum kemenangan Hugo Chavez pada pemilu 1999, gerakan sosialnya sangat banyak tapi juga sangat kecil dan lemah. Mereka terpecah-pecah ke dalam pelbagai kepentingan politik dan ekonomi, terutama bagaimana bisa mendapat akses sebesar-besarnya pada ekonomi minyak. Gerakan yang mencoba konsisten pada kepentingan rakyat, pasti terisolasi dengan sendirinya. Harap diingat, di Venezuela represi militer terhadap aktivis gerakan sosial tidak seganas rejim otoriter lain di kawasan Amerika Latin. Berbagai upaya untuk menyatukan gerakan, selalu menemui jalan buntu. Semakin persatuan dicari, semakin perpecahan yang terjadi.

Tetapi, sejarah memang tak pernah berhenti. Ketertindasan dan keterbelakangan akibat penerapan paket kebijakan neoliberal, adalah lahan subur bagi berkecambahnya anak-anak revolusi. Sosok itu hadir dalam tubuh Hugo Chavez. Dia bukan Ignacio "Lula" Da Silva atau Evo Morales, yang memiliki sejarah panjang dalam pembangunan gerakan sosial. Chavez adalah seorang kolonel Angkatan Darat Venezuela, tampil ke depan menjadi corong rakyat dalam perlawanannya terhadap kapitalisme-neoliberal. Dia muncul sebagai simbol pemersatu gerakan sosial di Venezuela. Sebaliknya, gerakan sosial menyadari, mereka harus mendukung Chavez karena inilah momentum untuk membangun koalisi besar melawan oligarki.

Terbukti, Chavez dan gerakan sosial di Venezuela sanggup mempertahankan kemenangan yang telah diraihnya. Ada simbiose-mutualisme dalam kasus ini. Kepemimpinan Chavez didukung secara kritis dan sebaliknya, Chavez memberi ruang yang sangat besar bagi pembangunan gerakan sosial. Inilah kesadaran sejarah yang membuahkan cerita manis.


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help